Pasoepati Anti Racism

Pasoepati Anti Racism

9 Februari mendatang, Pasoepati tepat berusia 11 tahun. Sebuah usia yang tidak muda lagi untuk puluhan ribu anggota yang sudah menelurkan tiga atau lebih generasi. Anniversary kali ini dirasa lebih bermakna mengingat nama Pasoepati kini semakin dikenal oleh publik sepakbola nasional pasca pembukaan gelaran Liga Primer Indonesia yang ‘mengikutsertakan’ Pasoepati dalam memeriahkan Liga Profesional itu di stadion Gelora Manahan beberapa minggu lalu.

Pasoepati sejak berdiri dikenal sebagai suporter yang cinta damai. Sejalan dengan motif “From Solo With Love” yang menjadi landasan dibentuknya kelompok suporter ini oleh Mayor Haristanto tahun 2000 lalu. Tour de Surabaya adalah salah satunya. Meskipun beberapa tahun lalu hubungan ‘Solo’ – ‘Surabaya’ dengan Bonek Manianya sempat renggang bahkan berkonflik, namun karena jiwa damai dan beradab yang menjadi ciri khas wong Solo, Bonek dan Pasoepati kembali menemukan hubungan cinta damai dengan mencairkan segala problem yang selama ini mengganggu hubungan kedua pihak.

Tema yang diusung oleh Pasoepati dalam ulang tahun kali ini adalah Say No To Racism. Sudah bukan barang baru lagi bahwa rasisme dalam suporter klub di Indonesia kerap kali menjadi hal yang melekat dalam setiap lagu dan tarian yang dibawakan ketika menonton pertandingan klub kesayangannya bertanding bahkan tertuju bukan pada lawan tanding klub yang didukungnya.

………. Bonek J****K … dibunuh saja…

……..Asal jangan The Jak… The Jak itu An****…

Itulah sepenggalan lagu-lagu favorit para suporter yang bernada rasis. Meskipun lawannya bukan Persebaya, bisa saja sebuah klub justru mengejek bonek dalam nyanyiannya. Meskipun bukan Persija, The Jak jadi sasarannya, dan lain sebagianya. Inilah lagu-lagu rasisme yang sebenarnya tidak baik untuk kemajuan sepakbola itu sendiri. Karena semakin banyaknya kasus rasisme maka semakin pula marak perkelahian antar suporter yang sebenarnya satu visi yakni untuk kemajuan kesebelasan Merah Putih.

Ada salah seorang teman adalah suporter fanatik Timnas Indonesia. Ketika ditanya kenapa tidak bergabung dengan kelompok suporter mendukung klub lokal di kotanya, pemuda berusia 22 tahun yang tinggal di salah satu kota besar ini menjawab bahwa satu hal yang membuatnya ‘ogah’ untuk bergabung adalah adanya nada-nada dan sorakan rasis kepada suporter lain yang sebenarnya tidak pantas. Kampungan itu semua; tegasnya.

Rasisme adalah sesuatu yang sangat diharamkan dalam dunia sepakbola. Baik untuk pemain maupun klub serta pendukungnya. Sepakbola pada intinya adalah ajang untuk kebersamaan meskipun atas dasar kompetisi. Apalagi sebuah liga yang dibentuk tidak lain untuk kemajuan sepakbola negaranya di mata dunia internasional. Nyanyian dan tarian rasis antar suporter seharusnya tidak terjadi lagi dan semestinya segera dihentikan jika Liga Primer Indonesia yang konon menjadi ‘Liga Inggris’nya Indonesia bergulir. Dan Pasoepati telah mengawali itu. Kini, mampukah Pasoepati seluruh Indonesia menjadi contoh kepada yang lain bahwa mulai detik ini dan ketika selebrasi ulang tahun 9 Februari mendatang dilaksanakan, di tubuh Pasoepati tidak ada lagi rasisme.

Nah, mari kita sambut Pasoepati Anti Rasis. Selamat Ulang Tahun ke 11 PASUKAN SUPORTER PALING SEJATI Surakarta Indonesia. Semoga semakin dikenal, semoga semakin profesional, semoga semakin fundamental dalam perkembangan sepakbola nasional. (affa88)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s