Pasoepati di pembukaan LPI (images.detik.com)

Pasoepati, kata ini lebih dulu populer di dunia pewayangan. Ya, Pasoepati adalah senjata panah andalan tokoh wayang yakni Arjuna. Panah yang mengalahkan hewan-hewan musuh besar anak ketiga dari saudara Pandawa ini. Namun, seiring meredupnya budaya seni wayang di negeri ini, Pasoepati tetap dikenal luas seluruh Indonesia. Tetapi kali ini bukan berupa senjata panah melainkan senjata tuan rumah kesebelasan klub sepakbola yang bernaung di kota Solo, Jawa Tengah. Pasoepati kini lebih dikenal sebagai kelompok suporter sepakbola karena prestasinya membanggakan klub kesayangan sekaligus atraksi di tribun stadion yang bisa dikatakan salah satu yang terbaik di Indonesia.

Pada tanggal 9 Februari 2000, publik Surakarta membentuk aliansi suporter untuk mendukung klub baru yang berkompetisi di Liga Indonesia waktu itu yakni Pelita Solo dengan nama Pasukan Suporter Pelita Sejati atau disingkat Pasoepati. Pasoepati dirintis oleh seorang praktisi periklanan Solo, Mayor Haristanto yang berinisiatif untuk membentuk sebuah wadah organisasi suporter bola pasca kedatangan Aremania di stadion Gelora Manahan ketika laga Arema Malang melawan Pelita Solo.  Pasoepati disambut antusias warga Solo dan sekitarnya yang sedang bereuforia menyambut Pelita Solo berlaga di Manahan. Pasoepati meroket menjadi meteor di kancah persepakbolaan nasional setelah berbagai media masa mempublikasikan keindahan seni mendukung klub sepakbola yang ditunjukkan oleh Pasoepati.

Pada tahun 2002, Pelita Solo menyatakan hengkang dari Solo setelah kurang berprestasi dan kemudian menuju Cilegon Banten. Namun, warga Solo kembali kedatangan klub pendatang lainnya yakni Persijatim yang sebelumnya merasa dianaktirikan oleh Pemkot Jakarta. Persijatim mengganti namanya menjadi Persijatim Solo FC yang berlaga di Liga Indonesia Wilayah Timur. Sedangkan Pasoepati turut mengubah nama menjadi Pasukan Suporter Solo Sejati.

Tiga tahun kemudian, Perjuangan Pasoepati mendukung habis klub yang bermukim di Stadion Gelora Manahan seperti dicampakkan begitu saja. Persijatim Solo FC pun hengkang setelah tidak kunjung mencapai prestasi memuaskan. Klub perserikatan itu menuju Palembang dan menamakan diri menjadi Sriwijaya FC. Saat itulah, Pasoepati seperti mati suri. Namun, anggota Pasoepati seluruh Indonesia sepakat untuk mendukung tim asli Solo yakni Persis Solo yang berjuang di Divisi I saat itu dan Divisi Utama pada dua tahun terakhir.

Kesatuan Pasoepati dan Persis Solo seperti tangan dan kaki. Saling bersinergi dan saling mengisi. Meskipun Persis Solo tidak pula berprestasi di kancah persepakbolaan nasional, Pasoepati yang sudah terlanjur merasuk ke dalam hati cah Solo tetap mewarnai dunia sepakbola nasional dengan berbagai aksinya. Selain rutinitas mendukung Persis Solo, anggota Pasoepati yang tersebar di seluruh negeri mengadakan gathering dan kopdar atau kegiatan-kegiatan keakraban lainnya. Pun juga dengan mendukung timnas Indonesia berlaga di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta.

Di tahun 2011, Pasoepati semakin dikenal oleh publik atas performance-nya di tribun Stadion Gelora Manahan setelah mendukung tim baru Ksatria IX Solo FC melawan Persema Malang dalam pembukaan Liga Primer Indonesia (LPI). Dukungan puluhan ribu Pasoepati yang memadati kompleks stadion plus tidak kebagiannya tiket untuk ribuan Pasoepati lainnya menandakan bahwa Pasoepati adalah pelopor suporter profesional dalam mendukung Liga Sepakbola Profesional.

Pohon Cinta Pasoepati Bonek Mania (Facebook Mayor Haristanto)

Pohon Cinta Pasoepati Bonek Mania (Facebook Mayor Haristanto)

 

Pujian mengalir deras untuk Pasoepati dari berbagai kalangan yang menyaksikan duel perdana LPI itu baik yang berada di stadion maupun yang menyaksikan melalui layar televisi. Apalagi, kekalahan tim yang didukungnya Solo FC dari Persema sama sekali tidak menjadikan kekecewaan berlebihan yang menuju anarkis. Pasoepati justru tertib begitu peluit panjang berbunyi. Sebuah cerminan fans sepakbola dunia pada diri Pasoepati. Lebih dari itu, Pasoepati bersama Bonek Mania, kelompok suporter Persebaya Surabaya, yang lama berseteru sore itu menggelar tanam pohon kedamaian di sekitaran stadion Manahan. Pasoepati dan Bonek akan menjadi contoh bagi kelompok suporter lain yang selama ini berseteru baik dalam pertandingan maupun di luar pertandingan. Sebuah program jangka panjang untuk menjadikan indah persepakbolaan nasional beserta pendukungnya.

Saedtama Pasoepati.

artikel telah dipublis di http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/01/09/lebih-dekat-pasoepati-pelopor-suporter-liga-profesional-indonesia/

3 responses »

  1. solo mengatakan:

    sip..sip..
    penting ra damai karo dulur biru kidul…
    brajamusTAI..

  2. theblues mengatakan:

    goooobllokk

  3. theblues mengatakan:

    bonek anjing hanya orang bodoh yg damai ma bonek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s