foto by : Arista Budiyono

foto by : Arista Budiyono

Minggu, 14 Nopember 2010, Pasoepati Jabodetabek yang tergabung dalam Pasoejak menyanggupi nadzar  dengan ‘mbrangkang’ mengelilingi Tugu Monas yang berkeliling lebih kurang satu setengah kilometer. Nadzar yang dikabulkan Tuhan adalah kembalinya Persis Solo ke Divisi Utama Liga Indonesia musim ini. Pukul 10.00 wib, di bawah panas terik matahari Jakarta yang sangat menyengat tiga kawan Pasoepati Jakarta bersiap untuk melakukan hal unik dan menantang ini. Mereka adalah mas Toni, mas Agasta, dan mas Arin.

Sebelum acara dimulai, rombongan yang terdiri dari sekitar 20 orang termasuk dua tamu dari Panser dan Snex Semarang, mas Arif selaku ketua Pasoejak memimpin do’a agar acara tersebut berjalan lancar. Start dimulai dengan iringan lagu-lagu Pasoepati. Berjalan melintasi trotoar berbatu nan panas, ketiga Pasoepati ini tampak sangat antusias demi sukseknya Persis Solo. Dalam perjalanan, rombongan dihampiri beberapa pengunjung Monas siang itu, tampak juga beberapa bule yang tertarik melihat aksi nekat Pasoepati ini.

Perjalanan memakan waktu lebih kurang satu jam. Meski beberapa kali berhenti karena alat pengaman yang agak terbatas, tidak membuat ketiga Pasoepati untuk mencapai finish. Tepuk tangan dan salaman hangat meluncur kepada mereka setelah telapak tangan menempel pada garis finish. Nadzar telah berhasil dilaksanakan dan berharap dengan nadzar ini, pencapaian prestasi klub kesayangan tidak berhenti di Divisi Utama, melainkan sukses di kompetisi tertinggi di tanah air, Liga Super Indonesia.

foto by : Arista Budiyono

 

foto by : Arista Budiyono

Pukul 11.00 wib, rombongan beristirahat di bawah pohon rindang di sekitar Monas. Mas Toni terlihat cukup capai dengan memperlihatkan luka pada lututnya, demikian juga mas Andrie yang juga merasa sakit setelah merampungkan tugas ini. Namun demikian, tidak membuat mereka harus memikirkan lukanya terlalu berlama-lama. Yang terpenting, Persis Solo dan Pasoepati segera bangkit dan menjawab dengan prestasi mumpuni.

 

Kita, Pasoepati seluruh Indonesia, berharap bahwa apa yang telah mereka bertiga lakukan siang itu, tidak sia-sia. Tekad bulat dan semangat telah meluluhlantakkan keganasan trotoar Monas yang cukup membakar kulit, kita harapkan menjadi awal kesuksesan Persis Solo di masa mendatang.

Apa yang telah dilakukan oleh Pasoepati Jakarta ini adalah wujud cinta yang mendalam Pasoepati kepada Persis Solo dan juga semoga menjadi ajang untuk saling memberi motivasi dan meningkatkan loyalitas Pasoepati di seluruh Indonesia untuk selalu setia mendukung tim kesayangan apapun keadaannya, dimanapun kompetisinya dan kemanapun pertandingannya. Luka lutut tidak menjadi masalah daripada luka hati karena maju mundur mendukung Persis Solo. Demi prestasi Persis, Pasoepati rela melakukan hal ‘gila’ ini. Demi prestasi Persis, Pasoepati rela mendukung sampai mati…

 

foto by : Arista Budiyono

 

foto by : Arista Budiyono

Hayo, siapa mau nadzar lagi? Buktikan merahmu wahai kawan..!!!

Salam Edan Tapi Mapan, SALAM RINDU PASOEPATI JAKARTA UNTUK SOLO TERCINTA…

5 responses »

  1. 1923-danang mengatakan:

    Mantap..JOSSS… SALAM LOYAL PASOEPATI!!!

  2. Husen mengatakan:

    😀😀😀 I love pasoepati, salam dari pasoepati Medan

  3. BAGONG Pasoepati Karanganyar mengatakan:

    tak doakne, SINg Dengkule Loro ben ndang mari.. Chayoo!!!!!!

  4. aang mengatakan:

    kalau berita-berita di blog ini selalu di update saya akan sering mengunjungi blog mu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s