Sebelum hijrah ke Solo dan memproklamirkan menjadi Solo FC, klub yang kini dikenal dengan nama Sriwijaya FC adalah sebuah bond perserikatan dari Jakarta Timur dengan nama Persijatim. Di tanah asalnya, Jakarta, mereka cemburu dengan perhatian (berlebihan) yang ditunjukkan oleh Gubernur Sutiyoso (yang mana saya yakin itu akal-akalan Bang Yos untuk mendapatkan kendaraan politik). Entah kenapa Bang Yos memilih Persija (Pusat) sebagai tim yang dipilihnya menjadi simbol Jakarta. Mungkin karena dekat dengan rumah dinasnya di Menteng. Mungkin juga tidak sesimpel itu. Yang jelas, dua tim dari ibukota, yang pertama Pelita Jaya, memutuskan hengkang dari “tanah kelahiran” mereka karena status mereka yang tiba-tiba “ditutup” peluang bersaingnya.

Baik Pelita Jaya dan Persijatim memutuskan Solo sebagai persinggahan pertama. Pelita melebur menjadi Pelita Solo, dan meletupkan euforia sepakbola yang padam sejak Arseto bubar jalan di 1998, serta Persis megap-megap di divisi 3. Pasoepati dibentuk awalnya dengan kepanjangan sebagai “Pasukan Suporter Pelita Sejati”. Sayang, kemesraan Pelita dengan publik Solo tidak berlangsung lama. Hanya dua musim, tim milik Nirwan Bakrie ini memutuskan pergi dari kota Bengawan lantaran ada tawaran yang lebih menggiurkan dari Krakatau Steel di Cilegon.

Kevakuman Solo langsung diisi tim pesakitan lainnya dari Jakarta, yakni Persijatim. Di bawah G.H Sutejo dan dukungan dari Mohammad Zein yang saat itu menjabat sebagai sekjen PSSI, urusan lebih lancar. Segera Persijatim menyandang embel-embel Solo FC di belakang nama lamanya. Persijatim Solo FC. Nama yang aneh tapi nyata.

Meski aneh dan berkesan tidak serius, kedatangan Persijatim disambut dengan tangan terbuka oleh Pasoepati yang berbalik haluan menjadi “Pasukan Suporter Solo Sejati”. Sejak saat itu, Solo FC rutin berkandang di Manahan, dan memunculkan nama-nama seperti Ismed Sofyan, Hari Salisbury, Maman Abdurrahman, Wawan Darmawan, Mardiansyah, dan Ferry Rotinsulu.

Di tahun ketiga, Persijatim memutuskan hengkang karena merasa tidak didukung oleh Pemkot Solo. Persoalan serupa ketika yang mebuat mereka cabut dari Jakarta. Destinasinya sempat mengambang (di antaranya ke Madiun), hingga akhirnya kota Palembang menjadi pilihannya. Pertimbangannya, Palembang usai mengadakan PON dan memiliki stadion Jaka Baring yang tak bertuan (sama dengan pertimbangan tim-tim yang melirik Solo). Pemda menyambut dan Persijatim resmi dibeli oleh Pemda Sumsel (belajar dari pengalaman buruk Solo). Mereka resmi bernama Sriwijaya FC sejak 2005.

Armada lama masih dibawa. Bagi suporter sepakbola Solo, tentu masih akrab dengan Wijay, si pemain keturunan India yang telah berkiprah dari awal Persijatim “ngungsi” ke Solo. Kemudian Ferry Rotinsulu dan Tony Sucipto yang menjadi andalan di tahun terakhir Solo FC.

Kini, Sriwijaya FC di bawah pelatih Rahmad Darmawan menjadi yang terkuat di Indonesia. Saya sebagai (mantan) publik Solo, merasa sedikit getir mengingat memori masa lalu. Hanya berandai, misalnya waktu itu mereka tetap di Solo dan memberi double winner semacam ini tentu akan meletupkan euforia bagi masyarakatnya yang fanatik tersebut. Tetapi, jaman dulu tidak ada Zah Rahan, Obiora atau Kayamba yang berjasa besar bagi Sriwijaya FC. Yang menonjol justru potensi-potensi lokal yang kini berkembang di tim-tim lain.

Sebagai homage, inilah susunan terbaik Solo FC (yang kini bernama Sriwijaya FC) selama mereka berkandang di stadion Manahan:

Formasi 3-5-2
Kiper: Ferry Rotinsulu (kini menjadi andalan Sriwijaya FC); Sayap: Ismed Sofyan (awal karirnya, Ismed adalah bek kiri, bukan bek kanan seperti sekarang), Hari Salisbury (bek andalan PSIS Semarang); Bek: Maman Abdurrahman (pemain terbaik Liga Indonesia edisi 2005 dari PSIS Semarang),Leo Soputan (sempat mengkapteni Persita), Tony Sucipto (jangkar Sriwijaya FC); Gelandang: Eka Ramdani (playmaker timnas dan Persib Bandung),Modestus Setiawan (kini di PSIS Semarang), Ayouck Louis Berti (terakhir kali bermain bersama Persija Jakarta); Penyerang: Rochi Puttiray (pensiun, ikon Solo dari era Arseto), Mardiansyah (tenggelam di Persikota, dulu adalah goal getter Solo FC).

sumber artikel

9 responses »

  1. miko mengatakan:

    kalo dengaer kisah nya sedih juga awal terbentuk hingga saat ini. mungkin itulah hikmah dari semua peristiwa, ya walaupun begitu sfc tetaplah milik indonesia. siapapun,kapanpun nama dan kebesaran ialah hak bersama dan milik warga indonesia. salam laskar wong kito plembang.

  2. guntur mengatakan:

    Solo memang kota bersejarah yang dicampakan,, sy ikut bersedih hati saat sekarang Persis Solo yang menjadi juru kunci Divisi utama.. semoga sepakbola kota solo tetap Keren dan ramai !

  3. salahkamar mengatakan:

    Sayang tinggal kenangan. Makin miris lihat Persis yang tak kunjung “siuman”. Solo FC (eks. LPI) pun tak jelas kelanjutannya.
    Kami Pasoepati rindu masa-masa itu

  4. […] ^ Persijatim Solo FC in Memoriam […]

    • aku12345 mengatakan:

      untuk apa ganti nama sriwijaya fc sriwjaya kan tok lol salam gue polisi sabu sabu

      • aku12345 mengatakan:

        slam gue presiden susilo bambang yudho yono untuk apa negara palembang ada bola negara palembang kan bau nya busuk dan membuang sampang sembaragan

  5. […] Pada waktu itu, Persijatim Solo FC merupakan sebuah klub perserikatan dari Jakarta Timur yang hijrah ke Solo yang mungkin dikarenakan rasa cemburu terhadap perhatian yang diberikan oleh Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta terhadap rekan sedaerah mereka. Selain Persijatim, ada juga nama Pelita Jaya yang memutuskan untuk hengkang dari Jakarta. (klik) […]

  6. […] ^ Persijatim Solo FC in Memoriam […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s