Pasoepati di dadaku

Sejak era kompetisi Galatama masih bergulir, masyarakat Solo sudah memiliki tim yang selalu mereka dukung sepanjang musim. Saat itu Arseto Solo memang masih eksis di kompetisi nasional dan namanya lebih tenar ketimbang tim perserikatan yang ada di Soloraya. Atmosfer sepakbola di Solo sempat kosong saat Arseto bubar pascakerusuhan 1998.

Sedangkan Persis saat itu masih berkutat di Divisi III. Belum adanya tim lokal yang mampu berprestasi di level nasional membuat penggemar sepakbola Solo menerima dengan tangan terbuka tim-tim yang singgah. Hingga kini, siapapun tentu belum lupa dengan kiprah tim yang pernah indekos di Solo, Pelita Solo. Walaupun bukan klub yang lahir di Solo, Pelita tetap mendapat sambutan hangat. Apa lagi nama Pelita beserta pemain sekelas Ansyari Lubis tentu tak asing bagi telinga penggemar sepakbola nasional.

Namun arti penting kehadiran Pelita bagi orang Solo adalah momentum berdirinya kelompok suporter pada 9 Februari 2000. Kelompok baru inilah yang dikenal dengan nama Pasukan Suporter Pelita Sejati atau Pasoepati. Masuknya nama Pelita ke dalam nama Pasoepati tak lepas dari harapan orang Solo agar klub ini tetap ber-home base di kota ini. Sayang, klub ini hanya mampir dua musim sebelum pindah ke Cilegon dan berubah nama menjadi Pelita Krakatau Steel.

Setelah Pelita pergi, tim asal Ibukota lainnya juga melirik Solo sebagai kandang baru. Kekosongan Stadion Manahan pasca-PON akhirnya terisi sebagai kandang bagi Persijatim yang menambah embel-embel Solo FC di belakang namanya.

Inilah memori mengesankan bagi Pasoepati dengan sebuah tim yang mampu bermain bagus di kancah Divisi Utama. Namun lagi-lagi Pasoepati ditinggal tim kesayangannya karena Persijatim pindah kandang di tahun ketiganya dan kini menjadi Sriwijaya FC.

Tetap eksis

Dua kali ditinggal klub kesayangannya, Pasoepati tetap menunjukkan eksistensinya. Persis Solo pun menjadi harapan terakhir walaupun musim lalu hanya berlaga di Divisi Utama. Walaupun Persis terpuruk, Pasoepati tetap menunjukkan kesetiaannya. Salah satu buktinya adalah kepedulian mereka terhadap krisis keuangan yang melanda Persis. Saat para pemain belum juga mendapat gaji Mei lalu, Pasoepati menggelar aksi ngamen.

”Semoga aksi ini bisa memicu keprihatinan dari seluruh lapisan masyarakat Kota Solo, terutama para pengurus Persis atas nasib para pemain yang hingga saat ini belum ada tindak lanjut mengenai gaji dan masa depan mereka,” kata Korwil Pasoepati Serengan, M “Abi” Badres beberapa waktu lalu.

Di luar persoalan klub, Pasoepati sendiri juga mulai berbenah diri. Konggres Pasoepati Februari lalu adalah salah satu momentumnya. Hal ini tampak dari pernyataan Presiden baru Pasoepati, Sarwanto, yang berencana membuat Pasoepati menjadi sebuah yayasan.

”Langkah pertama yang kami lakukan adalah melegalitas organisasi. Pasoepati akan kami jadikan organisasi suporter yang legal,” katanya seusai konggres. –

Artikel telah dipublikasikan di Surat Kabar Harian SOLOpos

One response »

  1. adiya89 mengatakan:

    Nice Blog gan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s